oleh: nanang djamaludin
Proses belajaran yang efektif bagi bayi dan balita dilakukan melalui bermain. Dengan bermain, seorang anak memroses pemahaman atas dirinya sendiri atas lingkungannya. Ia memasuki dunia barunya itu, mengeksplorasinya untuk kemudian berusaha mengenalnya. Melalui bermain pula sesungguhnya segenap potensi-potensi (multiple Intelligences ) kecerdasan majemuknya sedang dipupuk menuju proses pematangannya. Dan di sinilah bisa kita katakana bahwa bermain itu pangkal kecerdasan.
Bagi anak yang masih bayi, bermain sebenarnya termasuk aktifitas di luar perawatan atas dirinya. Seperti diketahui aktifitas perawatan terdiri dari aktifitas memandikannya, memakaikan baju, menyusui ASI, membedong, menidurkannya, memberinya makan dan sebagainya. Untuk itu amat baik jika pada bayi baru lahir, aktifitas bermain dilakukan bersamaan dengan aktivitas perawatan itu sendiri. Sehingga hasil atas stimulasi dini terhadapnya bisa semakin berdaya guna.
Dalam pandangan bayi, mainan terbaik bagi dirinya adalah Anda sendiri selaku orang tuanya, dan juga orang-orang terdekat yang menyayangi dan mencintainya, seperti nenek, kakek, kakak, paman, bibi dan sebagainya. Mengapa demikian? Karena diri anda, selaku orang tua, memiliki segala “kelengkapan” yang dibutuhkan bayi anda untuk bermain, yakni wajah anda, suara anda,, tangan anda, dan tubuh anda, serta tentunya kasih sayang sebagai sarana bermainnya.
Selepas masa bayi (0-11 bulan), seorang balita akan mulai mencoba permainan yang lebih variatif, yang lebih mengundang rasa ingin tahunya, bahkan yang mungkin lebih menantang. Seorang anak akan mencoba bermain lari-larian saat mengeksplorasi ruang tempatnya bermain, atau bermain naik-turun tangga, dan sebagainya.Lantas apa persisnya manfaat bermain pada anak itu, dan bagaimana aktifitas bermain itu akhirnya berujung ke arah mencerdaskan dirinya. Berikut beberapa penjelasannya:
a. Membantu perkembangan tubuh (fisik) anak
Dengan bermain, otot-otot tubuhnya akan menjadi kuat. Energi berlebih pada dirinya pun akan tersalurkan melalui serangkaian aktifitas penggunaan otot-otot tubuhnya saat bermain.
b. Mengembangkan kemampuan motorik anak.
Aktivitas bermain sesungguhnya banyak melibatkan gerakan motorik, baik motorik halus maupun kasar. Seperti berjalan, berlari, memegang, menggenggam, menunjuk, mengangkat, mendorong, melempar, mengambil, melompat dan sebagainya. Dan banyak-sedikitnya gerakan-gerakan motorik itu, tergantung jenis permainan yang dilakukannya. Sehingga bermain bisa dikatakan sebagai latihan kemampuan motorik anak agar bekerja lebih optimal, sekaligus menstimulus seluruh sistem inderanya.
c. Mengembangkan koordinasi antar anggota tubuh
Ketika anak sedang bermain, maka berlangsung koordinasi di antara organ-organ tubuhnya. Seperti mata, telinga, tangan, kaki, dan lainnya, termasuk otak. Koordinasi yang baik di antara organ-organnya itu sangat penting bagi proses pembelajarannya lebih lanjut. Dalam pematangan proses koordinasi itu, tentu saja di dalam jaringan sarafnya akan berlangsung pula proses-proses percabangan dendrit. Proses percabangan dendrit itu tentu saja sangat vital bagi proses peningkatan fungsi-fungsi kecerdasannya.
d. Mengembangkan kemampuan sosialisasi
Bermain yang dilakukan bersama teman-teman sebaya, ataupun teman-teman yang lebih besar, akan melatihnya mengenal karakter teman-temannya itu, sekaligus juga mungkin karakternya sendiri. Sehingga dalam proses selanjutnya, anak pun belajar memosisikan diri secara tepat dalam dunia pergaulan itu. Dengan begitu bermain juga dalam rangka melatih kemampuan sosialisasinya.
e. Mengembangkan sportifitas
Dalam permainan tertentu, ada unsur kompetisi. Seperti bermain kelereng, bermain halma, bermain monopoli, karambol, bulu tangkis, sepak bola dan sebagainya. Yang mana pada tiap permainan itu pun akhirnya melahirkan konsep "menang" dan "kalah". Di sinilah peran orang tua untuk terlibat sebagai "wasit" yang bijaksana pada setiap permainan berunsur kompetisi itu. Bahwa menang dan kalah adalah hal biasa. Kalah bukan akhir segalanya sebab bisa berlahit lagi agar mampu lebih baik nantinya.
Dan jika menang bukan berarti menjadi alasan untuk sombong pada kawan-kawan yang kalah. Dengan kata lain, orang tua harus mampu memberikan perspektif atas makna sportifitas dalam suatu permainan. Sehingga anak pun akan terlatih dan tumbuh menjadi berjiwa sportif.
f. Merangsang kemampuan diri.
Setiap permainan mensyaratkan kemampuan dan kemahiran tertentu. Dengan begitu seorang anak dapat mengukur kemampuan dirinya, apakah ia bisa memainkan suatu permainan atau tidak. Jika ia bisa melakukannya, maka ia akan terdorong untuk lebih baik lagi memainkannya. Jika ia belum mampu, maka ia akan tergerak untuk berlatih menguasainya. Dari situlah akhirnya bermain mampu mendorong kemampuan diri.
Dari manfaat beserta efek-efek aktifitas bermain itu, maka jika Anda memiliki anak yang masih balita, maka sebaiknya Anda perlu memperhatikan hal-hal berikut ini:
Keterlibatan Anda itu harus disertai interaksi dan komunikasi intens selama bermain. Ketahuilah, bermain akan lebih mencerdaskan jika terdapat interaksi, ketimbang sang bayi dibiarkan bermain sendirian.
> Bermain dengan bayi tak harus menggunakan aneka produk mainan yang harganya mahal.
Dengan bantuan alat-alat sederhana yang ada di rumah, sebenarnya sudah mencukupi. Gunakan alat-alat yang mudah digenggamnya dan tak membahayakan. Misalnya, sapu tangan, sarung handphone, botol bekas baby oil, remote control yang sudah tak terpakai, dan sebagainya.
Namun pastikan semua alat-alat itu dalam kondisi yang bersih, steril dan tentunya tak membahayakan. Bahkan sebenarnya banyak permainan untuk bayi dan balita yang tak butuh alat. Seperti permainan "ciluk ba", permainan "geleng-geleng kepala", permainan "tebak anggota tubuh", permainan “gelitik”, bernyanyi, dan sebagainya.
> Jikapun menggunakan mainan bayi, pilihlah mainan yang mampu merangsang sebanyak-banyaknya indera dan anggota tubuhnya. Seperti, mainan yang digantung dengan aneka bentuk dan warna, bola-bola kecil berwarna-warni, kerincingan, soft book, soft toys, dan sebagainya. Pada balita bisa Anda sediakan mainan merangkai balok, puzzle-puzzle sederhana, kartu bergambar, dan sebagainya. > Pada anak yang sudah lebih besar, ragam permainannya pun akan semakin bervariasi. seperti bermain halma, monopoli, congklak, ayunan, bersepeda, bermain bola, kelereng, karambol dan sebagainya. Namun perlu diingat, setiap permainan harus dipastikan sesuai tahapan perkembangannya, dan tak membahayakan. Orang tua pun perlu mengawasi tiap permainan yang dilakukan anaknya.
Nah, tunggu apa lagi! Ayo kita cerdaskan anak-anak kita dengan cara mengajaknya bermain dalam suasana hati gembira! []





