Komunitas Bintang Kecil (KBK)

Foto saya
Komunitas Bintang Kecil (KBK) merupakan lembaga yang concern terhadap persoalan tumbuh-kembang anak,pemajuan hak-hak anak,perlindungan anak,dan praksis parenting yang baik dan benar. KBK mempublikasikan wacana terkait pengasuhan dan pendidikan anak, pemajuan hak-hak anak dan perlindingan anak dan penguatan keluarga (family strengthen),serta advokasi kebijakan seputar anak dan keluarga.

Jumat, 07 Januari 2011

Kiat Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak

Oleh: nanang djamaludin


Dalam diri setiap manusia, juga tentunya seorang anak, selain terdapat potensi kecerdasan intelektual (IQ atau intelligence qoutient) dan kecerdasan emosional (EQ= emotional quotient), juga terdapat potensi kecerdasan spiritual (SQ=spiritual quotient). Setiap potensi kecerdasan yang ada pada anak-anak kita itu sebaiknya bukan saja dibiarkan sebagai potensi semata. Namun harus dirangsang kemunculan dan pertumbuhannya oleh orang tua agar menjadi sikap dan perilaku nyata sehari-hari anak-anak kita saat ia terus beranjak dewasa.

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang kecerdasan spiritual pada anak serta cara-cara praktis untuk mengembangkannya dalam diri anak-anak kita, maka terlebih dahulu di sini kita perlu menyinggung sedikit tentang IQ dan EQ.

Sekilas tentang Kecerdasan Intelektual dan Emosional
Sebagaimana diketahui, IQ atau kecerdasan intelektual sejauh ini lebih merujuk pada aspek kecerdasan logik-matematik dan kecerdasan verbal-linguistik semata. Dalam konteks tersebut, kecerdasan dipandang bersifat tunggal dan tak dapat berubah. Artinya, tak ada kecerdasan lain di luar IQ, dan sekali IQ sesorang sudah divonis (misalnya seseorang itu pintar, atau bodoh atau sedang-sedang saja), maka IQ itu tak akan berubah.

Tapi itu pandangan kuno. Pandangan yang jauh lebih mutahir adalah sebagaimana dikemukan oleh Howard Gardner (1983). Menurut Gardner , kecerdasan itu senantiasa tumbuh, berubah, berkembang, dan tidak ditentukan sejak lahir.
Dalam pandangan Gardner, tidak ada anak bodoh atau pintar . Yang ada, anak yang menonjol pada salah satu atau beberapa jenis kecerdasan. Lebih jauh Gardner mengemukakan adanya delapan jenis kecerdasan, yakni:

a.Kecerdasan linguistik (linguistic intelligence). Yakni kecerdasan yang terkait kemampuan berbahasa.

b.Kecerdasan logis-matematis (logical-mathematical intelligence). Yakni kecerdasan yang terkait kemampuan menggunakan logika, mengolah angka, berpikir analitis-kritis, perangkaan dan pengenalan pola.

c.Kecerdasan spasial (spatial intelligence). Yakni kecerdasan yang terkait kemampuan memvisualisasikan gambar di dalam pikiran, menciptakan bentuk dua atau tiga dimensi, dan kemampuan berfikir secara "meruang".

d.Kecerdasan kinestetik (bodily-kinesthetic Intelligence). Yakni kecerdasan yang terkait kemampuan mengolah dan menggerakkan tubuh, atau melakukan aktifitas fisik yang butuh keterampilan anggota tubuh tertentu.

e.Kecerdasan musikal (musical intelligence) Yakni kecerdasan yang terkait kemampuan mencerna, mengapresiasi, memainkan dan menciptakan irama-irama musik.

f.Kecerdasan intra-pribadi (intrapersonal intelligence). Yakni kecerdasan yang terkait kemampuan memahami diri sendiri, serta mengekspresikan dirinya secara baik.

g.Kecerdasan antar-pribadi (interpersonal intelligence). Yakni kecerdasan yang terkait kemampuan memahami dan menjalin hubungan dengan orang lain. Termasuk kemampuan berempati, negosiasi dan membujuk orang lain.

h.Kecerdasan naturalis (naturalist intelligence). Yakni kecerdasan yang terkait kemampuan mengenali bentuk-bentuk dan harmoni alam. Singkatnya kecerdasan yang cenderung menjadi "sahabat alam”.



Nah potensi kedelapan kecerdasan di atas sesungguhnya dimiliki tiap anak dalam "kadar" berbeda-beda. Sejauh organ otak anak tak cacat, tiap anak bisa mengembangkan seluruh potensi kecerdasannya. Namun biasanya tiap anak menonjol pada satu-dua-tiga kecerdasan. Meski tak mustahil lebih banyak kecerdasan bisa saja teraktualisasikan dalam diri seorang anak.

Lalu apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosi (EQ)? Adalah Peter Salovey dan John Mayer, psikolog dari Harvard University yang memperkenalkan istilah itu. Lalu Daniel Goleman (1995) mempopulerkannya lewat buku terkenal, “Emotional Intelligence, Why It Can Matter More Than IQ”.

Goleman sebenarnya mengambil dua jenis kecerdasan versi Howard Gardner sebelumnya, yakni kecerdasan intra-pribadi dan kecerdasan antar pribadi. Goleman lalu "meringkus" dua jenis kecerdasan tadi menjadi satu, dengan menyebutnya sebagai "kecerdasan emosi".

Di sini kita bisa gambarkan bahwa kecerdasan emosi sebagai seperangkat kemampuan yang terkait penilaian terhadap emosi pribadi dan orang lain, serta kemampuan mengelola perasaan-perasaan itu untuk mendorong, merencanakan dan menggapai tujuan hidup.

Dengan kata lain, sebenarnya kecerdasan emosional merupakan kemampuan memahami diri sendiri dikaitkan dengan kemampuan memahami orang-orang di sekitar, berinteraksi untuk mengembangkan empati, simpati, dan bisa bekerjasama dengan mereka.

Dan kecerdasan emosonal ini, menurut penelitian Goleman, lebih menentukan keberhasilan dan kebahagian seseorang dibanding kecerdasan intelektual (IQ). Dan kecerdasan emosi (EQ) perlu dipandang sebagai landasan bagi penggunaan IQ secara efektif.

Kecerdasan Spiritual

Harus diakui kecerdasan intelektual dan kecerdasan emotional, seperti disingung di atas, memiliki peran penting dalam kehidupan dan keberhasilan seseorang, termasuk seorang anak kelak. Namun harus digaris bawahi memiliki kecerdasan intelektual dan kecerdasan emotional saja belumlah cukup dalam menjamin kebahagiaan hidup. Sehingga diperlukan keseimbangan antara kecedasan intelektual dan kecerdasan emosional.

Untuk menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosional diperlukan kecerdasan lain. Kecerdasan itu disebut dengan “kecerdasan spiritual”.
Istilah kecerdasan spiritual ini diperkenalkan Danah Zohar dan Ian Marshall. Mereka menulis buku terkenal: SQ:Spiritual Intelligent-The Ultimate Intelligence. Buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “SQ, memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berfikir Integralistik dan Holistik Untuk memaknai kehidupan”.

Istilah lain yang hampir mirip dikemukakan motivator terkenal Indonesia, Ary Ginanjar Agustian. Agustian menggunakan istilah ESQ (emotional spiritual qoutient). Dalam bukunya, Ary Ginanjar mengkaitkan antara kecerdasan emosi dan spiritual dengan nilai-nilai luhur agama Islam.

Zohar dan Marshall sebenarnya tak memberi definisi khusus tentang spiritual qoutient. Mereka hanya membeberkan beberapa gambaran esensial terkait nilai dan makna dari kecerdasan spiritual itu, yakni:

- SQ diperlukan guna menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai hidup. Serta menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.

- SQ juga merupakan kecerdasan untuk menilai tentang baik dan buruk. Dan tindakan seseorang dalam menempuh jalan hidupnya lebih bermakna di banding tak melakukan apa-apa.

- SQ bukan cuma untuk memahami nilai-nilai yang ada, tetapi juga secara kreatif berusaha menemukan nilai-nilai baru. SQ terkait kreativitas bermuatan "makna", yang memungkinkan manusia mengubah aturan dan situasi, memberi “rasa moral”, menentukan baik dan jahat, memberi gambaran atau bayangan kemungkinan yang belum terwujud.

- SQ terkait dengan pusat dari diri manusia yang paling dalam, dan menjadi pemersatu seluruh bagian diri manusia yang lain, yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar. SQ menjadikan manusia benar-benar utuh baik secara intelektual, emosional maupun spiritual.

- SQ merupakan kecerdasan jiwa, yang mampu membantu menyembuhkan dan membangun diri secara utuh. SQ merupakan kecerdasan manusia yang paling tinggi, sebuah landasan yang diperlukan untuk memungsikan IQ dan EQ secara efektif.

- SQ, baik langsung atau tak, langsung terkait kemampuan manusia "mentransendensikan" diri (baca:menyandarkan diri pada Sang Maha Pengatur kehidupan), yang merupakan sebuah kualitas tertinggi dari kehidupan spiritual. Lewat transendensi diri akan membawa manusia “mengatasi” (beyond)―mengatasi masa kini, mengatasi rasa suka, duka, bahkan mengatasi dirinya sendiri.

Melalui transendensi diri, seseorang akan melampaui batas-batas pengetahuan dan pengalaman yang pernah ada, dan menempatkan semuanya ke dalam konteks lebih luas. Transendensi mengarahkan pada sebuah kesadaran pada Sesuatu Yang Luar Biasa, Tak Terbatas, di dalam maupun di luar diri kita, yakni Tuhan Yang Maha Esa.

Orang dengan kecerdasan spiritual, ciri-cirinya sebagai berikut:

* Senantiasa berbuat kebajikan.

* Senantiasa mentransendensikan segala hal yang bersifat fisik-material.

* Sanggup mengalami tingkat kesadaran diri yang memuncak.

* Sanggup menyakralkan segala pengalaman yang terjadi sehari-hari.

* Sanggup menyelesaikan masalah lewat penggunaan sumber-sumber spiritual.

Dari paparan di atas terlihat, kecerdasan spiritual mengorientasikan diri pada kehidupan rohani yang lebih bermakna hakiki. Konsep transendensi jadi "kendaraan" menuju tingkat kehakikian itu.

Lalu mungkin terbesit di pikiran Anda, bahwa tema tentang kecerdasan spiritual ini terkesan kuat sebagai "temanya orang dewasa" serta tak cocok diterapkan untuk balita, apalagi untuk bayi.

Untuk taraf tertentu, anggapan itu memang ada benarnya.Namun, bukankah lambat-laun anak kita pun akan menjadi dewasa. Sehingga dengan sendirinya butuh landasan yang kokoh bagi proses pematangan kehidupan rohaninya.

Memasukkan penjelasan kecerdasan spiritual pada pembahasan kali ini bukannya tanpa maksud. Hal ini dilakukan agar kita, para orang tua tak melupakan stimulasi berdimensi spiritual pada anak.

Stimulasinya bermuatan spiritual ini sebaiknya dilakukan sedini mungkin, tepatnya ketika anak dianggap mampu menangkap penjelasan-penjelasan Anda. Tentu saja stimulasi itu perlu dilakukan bertahap, dengan bahasa sesederhana mungkin, dalam suasana interaksi menyenangkan, dan disesuaikan tahap pemahaman anak.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mengembangkan kecerdasan spiritual anak, yakni:

> Berlakulah sebagai "tauladan spiritual" yang sesungguhnya bagi anak.

> Senantiasa sediakan waktu membaca Kitab Suci bersama-sama, seraya memberi penjelasan atas makna-makna yang terkandung di dalamnya. Bahkan amat baik jika dilakukan sejak masa kehamilan.

>Ceritakanlah kisah-kisah tauladan dari manusia-manusia agung, seperti para Rasul dan Nabi.

> Libatkan anak dalam kegiatan ritual keagamaan, sambil menjelaskan makna dari ritual-ritual itu.

> Sertakan anak dalam kegiatan sosial, sambil menjelaskan hakekat terdalam kegiatan itu yang notabene juga berdimensi spiritual.

> Berdiskusilah dengan anak secara santai tentang tema-tema keseharian, sambil menyelipkan perspektif spiritual dan perspektif ilmiah, pada tema-tema itu.

> Ajak anak menjenguk orang sakit, mengunjungi penampungan anak-anak terlantar, rumah jompo, rumah yatim piatu dan sebagainya. Dan jelaskan perspektif spiritual dibalik tindakan-tindakan itu.

> Putarlah lagu-lagu inspiratif-spiritual dan bernyanyilah bersama anak. Atau dapat pula dengan membaca bersama puisi-puisi inspiratif-spiritual.

> Sediakan waktu berekreasi ke alam bebas, sambil menjelaskan tentang Keagungan Tuhan Yang Maha Melingkupi.

> Bimbinglah anak dalam merumuskan visi dan misi besar hidupnya sebagai hamba Tuhan, dengan tetap menghargai pandangan-pandangannya.[]

Tidak ada komentar:

Cari Blog

Entri Populer

Entri Populer

Total Tayangan Halaman

Entri Populer

Pengikut

Komunitas Bintang Kecil Mengucapkan

Selamat datang Para pencetak Generasi Baru Indonesia

PEWARIS JAGAD

PEWARIS JAGAD
Anaklah yang sebenarnya "mewarisi" jagad kepada kita. Bukan sebaliknya.

PERPUSTAKAAN PERTAMA

PERPUSTAKAAN PERTAMA
Mamaku, perpustakaan pertamaku

GENERASI BARU

GENERASI BARU
Merekakah generasi baru sekaligus kandidat pelaku utama perubahan Indonesia masa depan?