Komunitas Bintang Kecil (KBK)

Foto saya
Komunitas Bintang Kecil (KBK) merupakan lembaga yang concern terhadap persoalan tumbuh-kembang anak,pemajuan hak-hak anak,perlindungan anak,dan praksis parenting yang baik dan benar. KBK mempublikasikan wacana terkait pengasuhan dan pendidikan anak, pemajuan hak-hak anak dan perlindingan anak dan penguatan keluarga (family strengthen),serta advokasi kebijakan seputar anak dan keluarga.

Rabu, 08 April 2009

Melahirkan Dalam Air (water birth) Alternatif


Oleh: nanang djamaludin


Sebelumnya cuma dikenal dua metode persalinan: persalinan normal (per vaginam) dan bedah caesar (per abdominam). Kini telah tersedia metode lainnya, yakni water birth (melahirkan dalam air). Metode ini baru dipraktekan di Indonesia awal Oktober 2006. Tercatat Liz Adianti, warga Ciputat Tangerang, sebagai perempuan Indonesia pertama yang menjalani persalinan dalam air.

Setelah keberhasilan Liz, banyak ibu muda, tak terkecuali para selebritis Indonesia, mencoba persalinan dengan cara berendam di kolam ini. Memang masih sedikit rumah sakit yang menyelenggarakannya. Dan rata-rata berlokasi di Jakarta. Di antaranya Klinik Sam Marie, Rumah Sakit Bunda, Rumah Sakit MMC Kuningan, dan Rumah Sakit Budhi Jaya. Seiring trend dan gaya hidup masyarakat, besar kemungkinan water birth akan banyak diterapkan di kota-kota besar lainnya.

Water birth sebenarnya telah lama ada di dunia. Pertama dipraktekkan di Rusia. Adalah Igor Tjarkovsky, peneliti dan instruktur renang Rusia, yang memperkenalkannya pada 1961. Ia menolong ratusan ibu melahirkan lewat tangki berisi air hangat. Tjarkovsky yakin, cara itu dapat membuat fisik dan psikis bayi lebih prima.

Pelopor lain adalah Dr. Michel Odent, ahli kebidanan Perancis. Tahun 1977 Odent memperkenalkan cara melahirkan dalam air hangat. Menurutnya cara itu membuat para ibu lebih santai menjalani persalinan. Sedikit beda dengan Tjarkovsky, Odent lebih memandang water birth dari segi manfaat yang diperoleh ibu. Selain dapat mempercepat proses pembukaan jalan lahir, juga meminimalisir rasa sakit.

Meski awalnya kontroversial, namun lantaran itu pula akhirnya kian populer. Sepanjang era 1980-an dan 1990-an water birth menyebar luas tak hanya di negara Eropa Timur dan Prancis. Juga ke Amerika, Inggeris, Australia, dan menembus beberapa negara Asia. Konon di tahun 1995 saja, diperkirakan 19.000 perempuan dari 39 negara telah mencoba metode ini. Sepertinya jumlah itu akan terus berlipat seiring citra "unik" dan "sensasional" yang tercipta lewat water birth ini.
Water birth sebenarnya mirip persalinan normal biasa. Jadi indikasinya serupa dengan persalinan normal. Namun sesuai namanya, berlangsung di dalam kolam buatan yang disterilkan. Sehingga jika ada kondisi atau kondisi tertentu yang membuat ibu tak dapat melahirkan secara normal, maka water birth tak diperkenankan. Dan metode caesar yang perlu ditempuh. Misalnya posisi janin sungsang, plasenta menutupi jalan lahir (plasenta previa), air ketuban hijau kental sebagai tanda bayi mengalami stres, ibu mengidap penyakit menular (seperti herpes, hepatitis, dan HIV), dan lain-lain.

Pada beberapa rumah sakit, ruangan water birth mirip ruangan mandi sauna. Ibu yang akan melahirkan diminta berendam di kolam dari dada ke bawah. Biasanya lewat ijin dokter, suami diperkenankan mendampingi istri selama proses persalinan. Suami bisa membantu memijat-mijat punggung istri agar merasa tentram. Atau dapat diselingi kegiatan mengabadikan momen-momen proses persalinan itu lewat kamera atau handy cam.

Lamanya proses bisa bervariasi. Umumnya berlangsung lebih cepat ketimbang melahirkan di tempat tidur. Dan biasanya bayi yang keluar tak butuh bantuan manipulasi tangan atau lainnya. Kecuali jika keluarnya agak sulit.
Sejauh ini terdapat beberapa manfaat water birth, diantaranya:
- Mengurangi rasa sakit saat persalinan berlangsung. Diperkirakan pengurangan rasa sakitnya bisa mencapai 40-80 persen dibanding melahirkan di tempat tidur. Sebab saat berendam, terjadi relaksasi otot-otot tubuh yang signifikan. Relaksasi itu memicu produksi hormon endhorphin, yang bisa menghambat rasa sakit. Kadar adrenalin pun berkurang dalam darah, sehingga perasaan khawatir bisa ditekan. Dengan begitu, konsentrasi akan lebih baik selama proses persalinan.

- Saat berendam, tubuh ibu serasa melayang, serta cukup leluasa dan nyaman untuk bergerak. Sirkulasi darah di rahim dan kontraksi menjadi baik, tekanan abdominal berkurang. Dengan kontraksi yang lebih baik, pelepasan plasenta pun jadi lebih baik pula. Biasanya pelepasan plasenta dari dinding rahim butuh waktu sekitar 15 menit.

- Saat berendam di kolam, bibir vagina jadi lebih elastis dan rileks. Sehingga robekan pun bisa dihindari. (Penjahitan hanya dilakukan jika kebetulan ada robekan).
- Proses mengejan tak butuh tenaga ekstra, cukup perlahan-lahan.
* Waktu tempuh proses persalinan biasanya lebih singkat dari proses melahirkan normal biasa.
* Bagi bayi, metode ini mampu memperkenalkan dunia baru kepadanya dengan cara yang lebih baik tanpa membuatnya terkejut. Sebab di kolam air hangat, bayi tak merasakan perbedaan suhu yang ekstrem dengan saat berada di rahim ibu
-Meski belum ditunjang penelitian ilmiah, namun diyakini IQ bayi akan lebih tinggi dibanding yang lahir di tempat tidur. Sebab konon cedera kepala yang membuat bayi trauma dapat dicegah pada persalinan dalam air.
Biaya water birth memang masih relatif mahal, dan tergantung dari kelas perawatan. Namun umumnya di bawah biaya metode caesar di rumah sakit berkelas. Jika ingin menggunakan water birth, perlu pemeriksaan akurat atas kondisi kehamilan Anda. Dari situ dokter akan memutuskan bisa-tidaknya water birth diterapkan pada Anda.

Syarat Water Birth
 Dilakukan hanya untuk kehamilan dengan indikasi yang benar-benar normal, tanpa komplikasi. Di luar kehamilan yang normal, diterapkan metode caesar.
Kehamilan normal ini terkait kondisi ibu dan janinnya sendiri. Dalam konteks kondisi ibu, misalnya, ibu tak mengalami pre-eklampsia, tak terjadi infeksi dan pendarahan, dan tak sedang mengidap penyakit menular (seperti herpes, hepatitis, HIV dan lain-lain).

Dalam konteks kondisi janin, tak terjadi misalnya, posisi janin sungsang, kemungkinan bayi prematur atau kembar, plasenta menutupi jalan lahir (plasenta previa), air ketuban pecah duluan, air ketuban hijau kental (tanda bayi mengalami stres), dan bayi sulit lahir (misalkan panggul ibu terlalu sempit, sementara ukuran bayinya terlalu besar).

Keinginan dari ibu hamil sendiri, dan bukan karena paksaan.
Hal ini agar tercipta suasana hati ibu yang nyaman dan damai, yang tak dihantui stres dan khawatir. Sehingga dapat membantunya lebih berkonsentrasi saat melahirkan.

Ditangani oleh tenaga medis yang terlatih

Persalinan water birth akan dipantau secara seksama oleh dokter spesialis kandungan, dokter spesialis anak, dan bidan. Mereka dengan sabar dan sigap mendampingi ibu hamil selama berendam dan mengejan. Selama proses persalinan itu, mereka akan berdiri dekat ibu di pinggir kolam. Salah seorang dengan sigap akan menangkap bayi, mengangkatnya ke atas permukaan air, dan diberikan ke dalam pelukan ibu.

Fasilitas rumah sakit yang memadai
Diantaranya:
- Kolam mandi (bath tub) khusus, ataupun kolam plastik buatan, yang cukup besar dan steril. Biasanya berukuran sekitar 1,6 x 1,2 m atau 2 m. Untuk menjaga sterilitas, rumah sakit menyediakan 1 kolam untuk satu ibu. Jika yang digunakan kolam plastik, biasanya boleh dibawa pulang usai persalinan.

- Air hangat steril bertemperatur sesuai suhu hangat air ketuban (sekitar 35° C - 37° C). Ketinggian air dalam kolam sebatas bagian bawah payudara ibu dalam posisi duduk sambil berendam. Air yang digunakan biasanya air suling, tanpa zat kimia atau desinfektan untuk mensterilkan.
- Pompa pengatur yang menjamin air tetap bersirkulasi dengan baik.

- Beberapa rumah sakit biasanya juga menyediakan fasilitas aromaterapi dan musik relaksasi.
Tahapan Water Birth

- Ibu hamil yang berbaring di tempat tidur, akan diminta masuk ke dalam kolam saat pembukaan 6. Saat berendam bisa memakai baju daster longgar, dan tentu tanpa celana. Rasa nyaman pun tercipta saat berendam. Ibu bisa duduk rileks di dasar kolam dan fokus untuk melahirkan.

- Di kolam ibu mengejan mengikuti irama kontraksi. Para dokter dan bidan akan menemani, memandu, dan memegangi tubuh ibu dari pinggir kolam saat mengejan. Daya apung air membantu meringankan proses mengejan. Kontraksi yang baik mempercepat pembukaan rahim dan proses persalinan, serta meminimalisir proses pendarahan. Dan biasanya darah ibu yang keluar mengendap di dasar kolam dan tak berceceran.

- Setelah seluruh tubuh bayi keluar, dengan sigap tenaga medis langsung menangkap dan mengangkatnya dari kolam hanya dalam hitungan detik. Lalu bayi diberikan ke pelukan ibu. Baru dipotong tali pusatnya setelah pernafasannya berjalan stabil. Dan bisa segera diberikan ASI.

Tenggelam dan Tersedakkah Bayi?

Banyak yang khawatir, bayi akan tenggelam dan menghirup air saat dilahirkan di dalam air. Kekhawatiran ini cukup beralasan. Sehingga memang kehati-hatian mutlak diterapkan. Dan tentu tim medis akan bekerja secara sigap dan cepat mengangkat tubuh bayi begitu dilahirkan.
Di luar pentingnya kesigapan tim medis, ada argumen lain menjawab kekhawatiran itu.

Bukankah saat di kandungan sebenarnya bayi pun "tenggelam" di dalam air ketuban? Dan ia tetap bisa bernafas melalui plasenta atau tali pusat yang menempel pada dinding rahim.
Tak hanya itu, semacam cairan pekat juga mengisi paru-parunya, sehingga air tak bisa masuk ke dalamnya. Pada kasus kelahiran secara normal, bayi akan bernafas setelah dilahirkan. Sehingga cairan tadi keluar dari paru-paru, kemudian masuk ke pembuluh darah. Dan paru-paru yang sudah kosong akhirnya terisi oksigen.

Namun pada kelahiran melalui water birth, begitu bayi keluar ke dalam kolam, sebenarnya ia "hadir" ke lingkungan yang nyaris mirip dengan kondisi kandungan. Yakni air bertemperatur sama layaknya ketuban di rahim ibu. Ketika ia meluncur di air bertemperatur sama dengan air ketuban, saat itu bayi belum punya rangsangan untuk bernapas. Pasokan oksigennya tetap dipasok lewat plasenta atau tali pusat, seperti saat di dalam rahim.
Jadi begitu meluncur, kecil kemungkinan bayi tersedak menghirup air kolam. Sebab paru-parunya belum berfungsi untuk bernafas, dan ia pun belum memulai tangisan pertamanya sebelum plasenta lepas dari dinding rahim.

Perlu diingat, ada dua sebab bayi memulai tangisan pertama dan bernafas. Yakni, a) saat ia menyadari telah terjadi "perubahan lingkungan" pada dirinya, b) lepasnya tali plasenta dari dinding rahim.
Dan begitu ia meluncur ke dalam air, tim medis akan segera mengangkat bayi ke permukaan air. Saat itulah bayi merasa terjadi perubahan lingkungan. Rangsangan untuk bernafas pun timbul, dan ia pun ia menangis. Setelah napasnya stabil, dokter pun akan menggunting tali pusatnya.[]

Tidak ada komentar:

Cari Blog

Entri Populer

Entri Populer

Total Tayangan Halaman

Entri Populer

Pengikut

Komunitas Bintang Kecil Mengucapkan

Selamat datang Para pencetak Generasi Baru Indonesia

PEWARIS JAGAD

PEWARIS JAGAD
Anaklah yang sebenarnya "mewarisi" jagad kepada kita. Bukan sebaliknya.

PERPUSTAKAAN PERTAMA

PERPUSTAKAAN PERTAMA
Mamaku, perpustakaan pertamaku

GENERASI BARU

GENERASI BARU
Merekakah generasi baru sekaligus kandidat pelaku utama perubahan Indonesia masa depan?