Oleh: Nanang Djamaludin

Anda tentu mengenal istilah hypnosis atau hipnotis. Yakni suatu teknik mempengaruhi alam bawah sadar orang lain agar bertindak sesuai yang dikehendaki oleh penghipnotisnya. Selama ini hipnotis banyak digunakan motif-motif kriminal, seperti penipuan atau perampokan. Meski sebenarnya hypnosis dapat pula digunakan untuk tujuan-tujuan mulia.
Dalam hal pengasuhan anak, ternyata teknik hypnosis juga dapat diterapkan. Sehingga lahirlah istilah hypnoparenting. Pada dasarnya hypnoparenting merupakan penerapan teknik hypnosis atau hypnotherapy dalam hal mengasuh anak. Tujuannya menopang tugas-tugas orang tua dalam proses perkembangan anak ke arah yang positif, dan tanpa paksaan.
Teknik hypnosis terkait langsung dengan teori-teori mengenai pikiran dan struktur bahasa. Proses memasukan informasi ke dalam pikiran anak menggunakan struktur bahasa tertentu. Melalui hypnoparenting, orang tua dapat mengarahkan anak untuk senantiasa berperilaku dan punya kebiasaan positif. Kekeliruan dan kebiasaan buruk anak pun dapat dikoreksi lewat hypnoparenting, tanpa Anda harus marah-marah, atau melakukan kekerasan terhadapnya.
Keberadaan cara ini sebenarnya sudah sejak dahulu. Namun saat itu istilah hypnoparenting tentu belum dipakai. Hypnoparenting menggunakan komunikasi sebagai cara mempengaruhi alam bawah sadar anak. Cara kerjanya beroperasi langsung dalam alam bawah sadar anak. Dengan orang tua sebagai pusat kendali utamanya. Sehingga pemahaman anak secara bertahap dapat terus berkembang ke arah yang lebih baik. Untuk menerapkan hypnoparenting memang kita perlu tahu konsep dasarnya. Sangat sangat baik jika berkonsultasi terlebih dulu dengan ahli hypnotherapist.
Gunakan kalimat positif, bukan negatif
Perlu diketahui, otak anak ibarat spons yang mampu menyerap informasi apa saja dari lingkungannya. Baik yang didengar, disaksikan dan dirasakannya. Terutama dari orang tua dan orang-orang terdekatnya. Jika yang didengar dan dilihatnya adalah informasi keliru, maka ia akan menirunya, yang bisa mengarah pada pembentukan perilaku kesehariannya. Begitu pula sebaliknya, jika yang didengar adalah informasi positif.
Nah, disinilah pentingnya peran orang tua menanamkan ke dalam pikiran anak sugesti-sugesti positif, sesuai kebutuhan perkembangannya. Sehingga perilakunya akan mengarah pada aktualisasi dari muatan substantif sugesti itu. Lewat sugesti positif, perilaku dan kebiasan keliru pun lambat laun akan terkoreksi dengan sendirinya.
Inti dari hypnoparenting adalah mengucapkan kalimat-kalimat afirmatif berkekuatan sugesti secara berulang-ulang terhadap anak. Kalimat yang dipakai haruslah kalimat positif. Kata-katanya pun harus yang positif. Dan hindari kata-kata negatif, seperti bodoh, tolol, nakal, malas, sulit, bosan, ribut, rusuh, kacau, dan sebagainya. Kata "tidak" dan "jangan" pun sebisa mungkin dijauhi. Seperti "jangan nakal", "tidak berisik", dan "jangan malas", "tidak bisa" dan lain-lain.
Berikut beberapa contoh kalimat afirmasi berkekuatan sugestif, misalnya:
a. Shiren, ayo kita belajar berjalan lagi ya sayang... Pasti kamu bisa, sebab kamu anak yang gigih dan berani.
b. Ayo ibu bantu merapikan mainan kamu nak... Kita masukkan ke kotaknya, agar ruangannya kembali rapi seperti semula.
c. Aldo, hari sudah malam sayang... Sekarang kamu tidur yang pulas, besok pagi bangun dengan badan yang sehat dan bugar, dan kamu pun semakin pintar.
d.Kamu pasti bisa menahan pipis, Axel... Dan kalau pipis di kamar mandi ya. Jika malam hari kamu mau pipis, bangunkan saja ayah atau bunda untuk diantar ke kamar mandi.
e. Sekarang sudah waktunya makan siang, Vira...kamu harus makan agar bertambah sehat, kuat dan cerdas
f. Ayo kita coba menulis huruf lagi ya nak....Kemarin tulisanmu sudah bagus. Pasti sekarang akan semakin bagus lagi.
Kalimat-kalimat di atas mengandung muatan sugesti positif yang mampu memotivasi anak seperti yang dikehendaki. Apalagi jika diucapkan dengan bahas batin, dan berulang-ulang pada kesempatan lain. Sampai akhirnya anak benar-benar memahami dan berperilaku sesuai yang diharapkan. Kalimat-kalimat yang mensugesti itu membuat mental anak semakin kuat, pantang menyerah, dan kepercayaan dirinya pun semakin tinggi.
Berbeda dengan contoh-contoh kalimat di atas, sebaiknya jangan gunakan kalimat-kalimat berikut, misalnya:
a.Shiren, kamu jangan takut melangkah dong....Kapan kamu mau bisa jalan kalau selalu takut melangkah.
b.Mainan kamu jangan diberantakan seperti ini dong... Kenapa sih kamu tidak bisa rapih.
c. Aldo, kok sudah malam kamu tidak tidur juga sih...Besok kamu kesiangan lagi bangunnya.
d. Axel, kamu kok ngompol terus sih. Bunda kan capek terus-terusan harus menjemur kasur. Memangnya kamu tidak bisa kalau tidak ngompor sehari saja.
e. Vira kok tidak makan siang sih...Nanti tubuhmu kurus dan sakit-sakitan loh.
f. Ayo kita menulis huruf lagi. Tapi ibu tidak mau kalau kamu nulisnya sejelek kemarin. Capek ibu ngajarin kamu.
Kalimat-kalimat tadi lemah dari segi sugesti positif. Sehingga jauh dari muatan yang memotivasi anak. Jika kalimat itu terus digunakan dan terakumulasi dalam pikiran anak, justru bisa mengarah pada pembangkangan anak. Apapun yang sebelumnya kita kehendaki, akhirnya dilanggar oleh anak. Sebab, ketika kalimat-kalimat negatif diucapkan pada anak, maka resiko tak dipatuhi anak menjadi lebih besar, ketimbang kalimat-kalimat positif.[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar