Oleh: nanang djamaludin

Intuitive parenting merupakan sebuah istilah untuk merujuk model pengasuhan dan perawatan anak yang didasarkan pada intuisi (gerak hati, bisikan hati) orang tua. Negara-negara Barat kini kembali melirik intuitive parenting sebagai alternatif pengasuhan anak. Hal ini guna mengimbangi pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan modern, yang melahirkan beragam teori terkait pengasuhan dan perawatan anak. Selain itu mungkin untuk menyingkap "harta karun" terpendam di balik intuitive parenting yang selama ini dipraktekkan.
Pengasuhan anak berdasarkan intuisi ini sebenarnya bukan hal baru di dunia. Malah bisa disebut sebagai ilmu pengasuhan anak paling kuno. Diduga keberadaannya telah berlangsung sejak jamam purba. Saat manusia-manusia pertama penghuni bumi mengawali proses keprasejarahannya. Sebuah era nun jauh di belakang sana, sebelum muncul cabang-cabang ilmu-ilmu modern, seperti ilmu kedokteran, genetika, ilmu psikologi pendidikan, psikologi perkembangan, ilmu gizi, dan sebagainya.
Manusia-manusia purba praktis mengandalkan intuisi dalam hal mengasuh anak. Konon mereka pun banyak belajar dari fenomena alam, termasuk hewan. Seperti, misalnya, bagaimana hewan melindungi, mengasuh, memberi makan, dan menyusui anaknya. Bahkan, menurut hikayat, mereka pun "belajar" dari burung tentang ilmu "mengubur jasad" orang meninggal. Semuanya turut menajamkan intuisi nenek moyang kita itu. Seperangkat pemahaman mengasuh anak lalu dihayati, dipraktekkan, dan ditransfer secara sinambung pada generasi-generasi sesudahnya.
Ketika ilmu pengetahuan modern lahir dan berkembang, lengkap dengan seperangkat teori-teori, penggunaan intuisi dalam mengasuh dan merawat anak tetap memperoleh tempat. Bahkan hingga saat ini, di era globalisasi yang sarat informasi.
Intuisi sendiri berasal dari bahasa latin, intueri, yang artinya "melihat ke dalam". Dalam khazanah keagamaan mirip dengan kata "ilham". Pada intuitive parenting, orang tua berkiblat pada seperangkat pengetahuan dan pemahaman tentang pengasuhan anak yang telah "terhayati" di dalam dirinya. Dengan kata lain, intuitive parenting merupakan model pengasuhan anak yang back to basic.
Meski telah ada di dalam diri kita, namun pengetahuan dan pemahaman yang terhayati itu sesungguhnya bersumber dari "luar". Misalnya institusi pendidikan, buku, majalah, film-film ilmu pengetahuan populer, pengalaman orang tua atau orang lain, dan sebaginya. Sumber-sumber dari luar itu lalu "bersinergi" faktor-faktor "dalam". Seperti pengalaman-pengalaman nyata yang dijalani sendiri, dan dan ikatan batin dan emosi yang sangat kuat dengan sang anak. Ketahuilah, intuisi akan semakin peka ketika terus membuka diri terhadap informasi perkembangan ilmu pengetahuan terbaru.
Telah ada namun terpendam
Pengetahuan dan pemahaman intuisi itu sendiri bersifat "laten". Artinya, meski telah ada sejak lama dalam diri orang tua, namun ia ibarat potensi yang terpendam. Dan baru timbul ketika orang tua berhadapan dengan situasi dan kondisi tertentu, terkait penanganan masalah anak. Terlebih pada situasi dan kondisi yang bernuansa survival.
Misalnya ketika menghadapi bayi yang rewel. Orang tua dihadapi oleh pilihan, berpijak pada teori atau intuisi. Menurut teori, bayi yang rewel perlu diketahui dahulu penyebab kerewelannya. Apakah ia sedang sakit, minta diberi ASI, pipis, atau sekedar ingin diperhatikan. Bisa jadi Anda bingung menebak penyebab kerewelan yang amat "teoritis" itu. Apalagi jika terlebih dulu harus membolak-balik tumpukan halaman tabloit atau majalah cara mengatasi anak rewel. Capek deh...!
Lalu intuisi Anda memutuskan untuk segera mengendongnya ke halaman rumah. Saat digendong Anda pun berkata padanya, "Sudah seharian kamu belum mama gendong ya sayang. Kamu kangen digendong mama? Maafin mama ya. Sekarang kita main seperti kemarin, oke! " Dan ternyata, setelah diperlakukan seperti itu, anak Anda berhenti rewelnya. Dan itulah contoh keputusan intuisi.
Contoh lain, ketika di malam hari anak Anda demam cukup tinggi. Sementara dokter terdekat sudah tutup, stock obat penurun panas pun telah habis. Maka dengan mengandalkan intuisi, Anda memutuskan mengompres anak Anda. Seraya berdzikir dan berdoa dengan khusuk hingga dini hari, memohon kesembuhan kepadaNya. Dan ternyata secara perlahan demamnya mereda.Paginya pun anak Anda kembali bisa tersenyum gembira. Di situ pun intuisi kembali berperan.
Adakalanya keputusan intuisi orang tua bertolak belakang dengan sebuah teori. Misalnya, dalam hal melahirkan dalam air (water birth) sebagai alternatif persalinan. Secara teori, water birth bisa diterapkan, aman, dan terbukti banyak yang berhasil. Banyak ibu yang berharap memperoleh kesempatan penuh sensasi lewat water birth. Namun banyak pula ibu yang ogah menggunakan water birth. Sebab menurut intuisi mereka, betapa teganya orang tua, jika bayi yang didamba harus meluncur di kolam saat kelahirannya. Bukankah, lanjut mereka, bayi manusia bukan bayi ikan teri yang langsung pandai berenang ketika lahir.
Teori dan intuisi saling melengkapi
Antara teori dan intuisi seyogyanya memang tak mesti selalu dipertentangkan. Keduanya dapat saling melengkapi. Malah sebaiknya beragam teori pengasuhan, perawatan dan pendidikan anak yang relevan, perlu dibaca sebanyak-banyaknya oleh orang tua. Sebab hal itu justru dapat mempertajam intuisi. Selain tentu untuk mengurangi kadar subjektivitas dari intuisi yang dimiliki. Apalagi sebenarnya "level" intuisi setiap orang berbeda-beda. Sehingga tetap butuh ilmu pengetahuan dan teori untuk mengasah kualitas intuisi.
Seringkali teori malah berperan sebagai "pembenaran ilmiah" dari beragam praktek pengasuhan anak berdasarkan intuisi. Misalnya, pertama, jauh sebelum penemuan modern tentang manfaat ASI serta kandungan nilai gizinya, orang jaman dahulu telah mengikuti intuisi untuk meneteki ASI pada bayinya.
Kedua, praktek sunat pada anak laki-laki, yang telah berlangsung sejak dahulu, ternyata secara medis diakui sangat baik bagi kebersihan dan kesehatan anak.
Ketiga, berdasarkan penelitian, diketahui dampak positif musik klasik (mozart effect) mampu mencerdaskan anak. Para orang tua pun "direkomendasi" untuk memperdengarkan musik klasik pada anaknya. Namun rekomendasi itu terkesan "usang" dan "ketinggalan jaman". Sebab, sejak dahulu ibu-ibu di pelosok daerah telah mendendangkan kidung-kidung yang menenangkan saat menidurkan bayinya. Kita mengenal kidung-kidung berjudul, misalnya, "Hikayat Perang Sabil" di Aceh, atau "Ayun Ambing" di tanah Pasundan.
Keempat, tahun 2008 para peneliti Belanda berhasil mengidentifikasi suatu zat pada ludah (air liur) manusia, yang dapat mempercepat penyembuhan luka. Zat itu sejenis protein kecil pada ludah, bernama "histatin". Sebelumnya histatin hanya dipercaya membunuh bakteri. Namun ternyata juga bertanggung-jawab atas penyembuhan luka. Temuan itu diharapkan bermanfaat buat orang yang menderita luka yang tak kunjung sembuh, seperti borok di kaki dan luka akibat diabetes, serta bagi perawatan luka mengakibatkan trauma seperti luka bakar. Dan diupayakan untuk dapat diproduksi secara masal, seperti halnya krim anti boitik dan alkohol gosok..
Namun jauh sebelumnya penemuan itu, orang tua di pelosok-pelosok desa telah menggunakan "ludah basi" untuk menyembuhkan luka koreng pada anaknya. Bahkan kita pun telah lama tahu, hewan juga suka menjilati luka di tubuhnya.
Dan masih banyak lagi contoh tentang pembenaran teori atas intuisi. Untuk itu, ayo kita asah intuisi dalam membesarkan sang buah hati! []

2 komentar:
mana posting terbarunya????
komentarin blog saya dong..
dari : erny : http://sexy-repot.blogspot.com/
itu saya publish postingan terbaru kami
Posting Komentar